Emas Bersinar di tengah Kegelapan “Blackout Period”

Emas

Harga emas terus merangkak naik setelah sempat jatuh pada akhir pekan lalu.

Pada penutupan perdagangan Selasa (25/4/2023), emas ditutup di posisi US$ 1.997,87 per troy ons. Harga sang logam mulia menguat 0,45%.

Emas sempat jeblok 1,1% pada Jumat pekan lalu tetapi bangkit pada Senin pekan ini dengan https://lahan-duit.site/ menguat tipis 0,30%.

Harga emas juga masih menguat pada pagi hari ini. Pada perdagangan hari ini, Rabu (26/4/2023) pukul 06:55 WIB, harga emas ada di posisi US$ 2000,99 per troy ons. Harganya menguat 0,15%.

Emas kembali ke level psikologis US$ 2.000 setelah keluar dari level tersebut pada Jumat hingga Selasa malam.

Emas justru bersinar pada fase “blackout period’ menjelang rapat Federal Open Market Committee pada 2-3 Mei atau pekan depan.

Pada periode tersebut pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) tidak akan memberikan pernyataan atau memberi sinyal mengenai kebijakan moneter yang akan mereka ambil.
Seperti berjalan di kegelapan, pelaku pasar pun harus meraba-raba sendiri kemana arah pergerakan The Fed.

Sepanjang setahun terakhir, emas biasanya langsung tersungkur begitu memasuki blackout periode. Terlebih, saat pasar berekspektasi The Fed menaikkan suku bunga secara agresif.

Emas anjlok lebih dari 1,7% dua hari beruntun sebelum rapat FOMC Maret 2022.

Emas juga anjlok 1,8% dua tiga hari menjelang pertemuan FOMC pada Mei 2022 kendati menguat tipis pada dua hari sebelum rapat digelar.

Sang logam mulia ambles lebih dari 2,8% menjelang rapat FOMC pada Juni 2022.

Anjloknya emas karena ekspektasi The Fed menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 75 bps untuk pertama kalinya pada tahun ini. The Fed memang akhirnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bos pada 16 Juni 2022.

Menjelang rapat FOMC 27-28 Juli, emas hanya melemah tipis 0,5% karena pasar sudah menyesuaikan ekspektasi kenaikan sebesar 75 bps.

Emas sempat anjlok 0,8% dua menjelang rapat FOMC pada 21-22 September 2022 kendati menguat 0,6% pada saat rapat digelar.

Everett Millman, chief market analyst dari Gainesville Coins, menjelaskan emas tetap menguat menjelang rapat FOMC karena pasar meyakini apapun keputusan The Fed bisa berdampak positif ke emas.

“The Fed mungkin akan tetap berusaha mengerek suku bunga untuk memerangi inflasi. Namun, langkah itu juga berarti membuat ekonomi AS tidak leluasa,” tutur Millman, dikutip dari Reuters.

Jika suku bunga tetap dikerek maka ekonomi AS bisa jatuh ke resesi. Kondisi ini menguntungkan emas karena sifat emas sebagai aset aman.

Sebagai catatan, The Fed sudah mengerek suku bunga acuan hingga 475 bps sejak Maret 2022 menjadi 4,75-5,0%/

“Apapun keputusan yang diambil The Fed kemungkinan itu menghasilkan beberapa tekanan serta menciptakan ketidakpastian. Ketidakpastian ini bisa menguntungkan emas,” imbuhnya.

Pelaku pasar juga melihat ada ketidakpastian ekonomi jika kongres AS tidak segera menyetujui plafon utang atau debt ceiling pemerintah AS.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen kegagalan kongres bisa membawa “economic catastrophe” .

Plafon utang AS sudah menembus US$ 31, 4 triliun pada Januari tahun ini sehingga pemerintah meminta kongres untuk segera memberi kepastian apakah akan menaikkan plafon atau manahannya.

Ketidakpastian ekonomi AS ini jelas menguntungkan emas mengingat emas akan diburu di saat kondisi tidak menentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*