Miris! Vietnam ‘Hajar’ RI, Ekspor Furnitur Tak Sampai US$ 3 M

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita saat Pembukaan Pameran Indonesia Internasional Furniture Expo (IFEX) 2023, di Jakarta, Kamis (9/3/2023). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ekspor furnitur Indonesia saat ini masih kalah dari Vietnam. Bahkan, kata dia, ekspor furnitur RI masih jauh dari target tahun 2024 yang dicanangkan mencapai US$5 miliar.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, pada tahun 2020 ekspor industri furnitur sebesar US$1,9 miliar dan tahun 2021 melonjak 33% ke US$2,5 miliar. Pada periode Januari-September 2022, angka ekspor dilaporkan mampu mencapai US$1,9 miliar atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2021 senilai US&1,8 miliar.

Untuk itu, kata Airlangga, peningkatan kinerja ekspor furnitur Indonesia harus dipacu.

“Target yang ditetapkan pada waktu itu adalah US$ 5 miliar di tahun 2024, antara US$ 3,5 miliar sampai US$ 5 miliar ini kan masih jauh. Oleh karena itu, ada 2 hal yang harus dilakukan,” kata Airlangga seusai membuka pameran Indonesia Internasional Furniture Expo (IFEX) 2023, di Jakarta, Kamis (9/3/2023).

Untuk mencapai pertumbuhan US$ 5 miliar tersebut, katanya, hal pertama yang harus dilakukan adalah terkait bahan baku. Hal ini tak terlepas kaitannya dengan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK).

“Tadi saya katakan bahwa SVLK akan ditanggung oleh pemerintah, anggarannya nanti ada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tapi kalau KLHK nggak bisa, saya minta Kemenperin yang memfasilitasi,” ujarnya.

Kemudian yang kedua, lanjut dia, terkait dengan perluasan pasar ekspor. Adapun yang akan memfasilitasi pembiayaan ekspor ialah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

“Jadi, kalau ini seluruhnya dikonsentrasikan, diharapkan ini bisa mendorong ekspor, dan ekspor akan tercapai,” ucapnya.

“Kita lihat Vietnam sampai US$18 miliar. Vietnam yang tidak punya bahan baku mereka bisa US$18 miliar, jadi minimal di Asia ini (Vietnam) bisa menjadi benchmark kita, karena dari segi craftmanshift (keahlian) kita lebih unggul. Dari segi ketersediaan bahan baku, kita pun ada, SDM pun kita siap, jadi tinggal pengolahan secara baik,” tambah Airlangga.

Airlangga mengatakan, industri furnitur RI seharusnya bisa lebih unggul dari China dan Vietnam.

“Kita perlu dorong supaya kita bisa mendorong industri yang bahan bakunya rupiah, penghasilannya ekspor,” ujar Airlangga.

Sementara itu, Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, tata niaga dari bahan baku harus diperbaiki untuk mencapai pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi.

“Jadi, kelihatannya tata niaga bahan baku ini harus sudah kita perbaiki. Karena kalau kita mau pertumbuhan yang lebih tinggi lagi berarti bahan baku nggak akan mampu,” terang Abdul.

“China sama Vietnam nggak punya bahan baku, tapi mereka begitu hebat, ini juga menjadi salah satu pertanyaan, mestinya kita membuat sebuah langkah yang lebih besar dengan bahan baku yang kita punya,” tambah dia.

Abdul mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan Perhutani untuk betul-betul bisa memastikan bahan baku untuk produksi mebel RI aman.

“Bahwa betul sekali industri mebel dan kerajinan ini memang menjadi satu ikon yang kita harapkan di dalam pertumbuhannya bisa mencapai US$ 5 miliar. Tetapi kami punya catatan, pak kalau mau mencapai US$ 5 miliar di akhir tahun 2024 kami dibantu,” pungkas Abdul.