Paradoks Rafael Alun Eks Pejabat Pajak tapi Tak Patuh Bayar Pajak

Rafael Alun Trisambodo telah selesai menjalani pemeriksaan terkait Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) miliknya senilai Rp 56 miliar.

Rafael Alun Trisambodo seharusnya menjadi contoh pelaporan harta dan bayar pajak saat menjadi pejabat di Direktorat Pajak Kemenkeu. Namun yang terjadi adalah Rafael Alun tidak membayar pajak.
Tiga tim dari Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membongkar siasat Rafael Alun dalam menyembunyikan hartanya. Disebut, ada tiga siasat yang dijalankan oleh Rafael Alun.

Siasat tersebut salah satunya Rafael tidak sepenuhnya melaporkan hartanya dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Beberapa harta yang tidak dilaporkan seperti hasil usaha sewanya, uang tunai, dan bangunan yang dimilikinya.
“Terdapat hasil usaha sewa tidak sepenuhnya dilaporkan dalam harta kekayaan, ada yang tidak dilaporkan. Yang kedua tidak sepenuhnya melaporkan harta berupa uang tunai dan bangunan,” kata Inspektur Jenderal Kemenkeu Awan Nurmawan Nuh dalam jumpa pers, Rabu (8/3/2023).

Sebagian aset Rafael pun diatasnamakan pihak terafiliasi, seperti orang tua, kakak, adik, hingga teman.
“Yang ketiga, sebagian aset diatasnamakan pihak terafiliasi. Jadi pihak terafiliasi itu bisa orang tua, kakak, adik, teman, seperti itu,” ujarnya.

Harta yang ada di media sosial, baik itu video, foto, dan lainnya, ditemukan beberapa harta yang belum didukung bukti kepemilikan.

“Dari hasil eksaminasi kita bahwa terdapat beberapa harta yang belum didukung oleh bukti yang atau bukti autentik kepemilikan,” kata Awan.

Rafael pun diketahui tidak patuh dalam membayar pajak. “Tidak patuh dalam pelaporan dan pembayaran pajak,” ungkap dia.

Kata Anwar, Rafael menjadi perantara yang menimbulkan konflik kepentingan dengan jabatannya. Rafael disebut melakukan pengadaan barang dan jasa dari perusahaan miliknya.

“Menjadi perantara yang menimbulkan konflik kepentingan terkait dengan jabatannya. Yang keempat, terdapat informasi lain yang mengindikasikan adanya upaya Saudara RAT menyembunyikan harta kekayaan dan sumber perolehannya,” tutur dia.

“Dengan posisinya melakukan pengadaan barang dan jasa dari perusahaan miliknya. Jadi intinya seperti itu ada konflik kepentingan,” imbuh Awan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*