Perusahaan AS Mundur dari Proyek ‘LPG’ Batu Bara RI, Kenapa?

INFOGRAFIS, Proyek Gasifikasi RI

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membeberkan perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat, Air Products and Chemicals Inc., memutuskan hengkang dari proyek kerja sama hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Keputusan hengkangnya perusahaan raksasa asal Amerika Serikat dari proyek hilirisasi batu bara ini disampaikan melalui surat kepada Pemerintah Indonesia.

Direktur Utama PTBA Arsal Ismail menjelaskan, Air Products sudah mengirimkan surat resmi kepada Pemerintah Indonesia mengenai keputusan tersebut.

Lantas, apa yang menyebabkan Air Products memutuskan mundur dari proyek ini?

Sayangnya, Arsal tak membeberkan secara detail alasan Air Products memutuskan mundur dari proyek DME yang digadang-gadang bisa menjadi pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) ini.

Seperti diketahui, konsorsium Air Products, PTBA, dan PT Pertamina (Persero) sebelumnya telah sepakat untuk membangun proyek DME di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Air Products disebutkan memiliki saham 60%, PTBA 20%, dan Pertamina 20% di proyek ini. Adapun Air Products berperan untuk berinvestasi dalam hal pengadaan teknologi di proyek ini, lalu PTBA sebagai penyuplai bahan baku batu bara, dan Pertamina nantinya sebagai penyerap produk DME.

“Mereka sudah kirim surat resmi, alasannya itu mungkin ini masih berproses. Mereka mungkin punya alasan tersendiri, itu ada di Kementerian nanti lah yang bisa jelaskan lebih detail,” kata Arsal saat ditemui di Jakarta, Kamis (9/3/2023).

Menurut Arsal, pihaknya sendiri masih akan tetap berkomitmen untuk menjalankan proyek hilirisasi batu bara di dalam negeri, sekalipun tanpa Air Products. Mengingat, program hilirisasi batu bara merupakan upaya untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Kabar mundurnya Air Products dari konsorsium proyek pengganti LPG ini sudah dikonfirmasi oleh beberapa sumber CNBC Indonesia. Namun sayangnya, hal ini belum bisa dibeberkan secara jelas apa alasan Air Products mundur dari konsorsium tersebut.

Sebelumnya, pada Selasa (7/3/2023), mendadak Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengundang Menteri Investasi Bahlil Lahadalia ke Istana guna membahas mengenai program hilirisasi batu bara.

Menteri Bahlil mengatakan bahwa Presiden Jokowi meminta agar proyek gasifikasi batu bara Dimethyl Ether (DME) di Sumatera Selatan dipercepat. Pasalnya, ini penting untuk mengurangi impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) RI yang mencapai 6-7 juta ton per tahunnya.

“Kami melakukan rapat dengan Presiden, khususnya yang pertama kami membahas tentang percepatan investasi di bidang hilirisasi dalam konteks DME low calorie sebagai substitusi impor dari LPG. Dan Bapak Presiden memerintahkan kami untuk melakukan percepatan, ini adalah bagian dari mengoptimalkan batu bara low calorie untuk pergantian DME kita, karena kita tahu kita masih impor (LPG) sekitar 6 – 7 juta ton per tahun dan perlahan kita akan kurangi impor dari substitusi DME,” paparnya saat ditemui di Istana Presiden, Jakarta, Selasa (07/03/2023).

Dia mengatakan, salah satu tantangan dalam proyek ini yaitu terkait perhitungan karbon yang dihasilkan dari proyek ini, termasuk rencana perdagangan karbon yang akan dilakukan di pasar bursa.

“Ini masih ada perhitungan tentang karbon aja yang belum clear, jadi sebentar lagi akan selesai,” ucapnya.

Perlu diketahui, proyek DME ini mulanya ditargetkan bisa menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun dan diperkirakan menyerap 6 juta ton batu bara per tahunnya.

Dengan produksi 1,4 juta ton DME per tahun, maka diperkirakan bisa menekan impor LPG sebesar 1 juta ton per tahunnya.

Proyek yang disaksikan langsung awal pembangunannya atau ground breaking oleh Presiden Jokowi pada 24 Januari 2022 ini bernilai investasi US$ 2,1 miliar dan bisa menghemat devisa pengadaan impor LPG hingga Rp 9,14 triliun per tahun.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*